Dua penemuan ini dapat mengubah cara kita memahami memori. Tapi siapa yang berhak menggunakannya?

“Ada piano di sana, dan seseorang sedang memainkannya. Saya bisa dengar lagunya,” ujar pasien berinisial S.B., ketika ahli bedah syaraf menggerakkan sebuah elektroda pada permukaan otaknya yang terbuka. Untuk mengobati epilepsi, Wilder Penfield, ahli bedah syaraf awal abad ke-20, melepaskan bagian-bagian tisu otak. Sementara pasiennya—sadar sepenuhnya dan hanya dibius lokal—menceritakan apa yang dialaminya ketika sang ahli bedah syaraf menerapkan setruman pada bagian otak yang berbeda-beda. Ketika dia menstimulasi satu bagian, sang pasien melihat bentuk-bentuk, warna-warna, dan tekstur-tekstur; ada pula pasien yang merasakan sensasi pada bagian tubuh tertentu.

Namun ketika dia mengejutkan area khusus pada korteks serebral, para pasien menghadapi kembali ingatan yang amat jelas. Dengan setrumanan lain pada area yang sama, S.B. mengingat ingatan-ingatan soal piano: Seseorang menyanyikan lagu Louis Prima “Oh Marie.” Ketika Penfield memindahkan elektrodanya, S.B. mengalami ingatan soal perumahannya di masa lalu, “Saya melihat perusahaan pengemasan 7Up, Harrison Bakery.” S.B. bukan satu-satunya yang mengalami hal semacam ini—pasien-pasien lain juga teringat pada memori di masa lampau dengan detail amat intens.

Tidak ada yang terlalu mencolok, dan bukan hal-hal yang mereka niatkan untuk diingat: suara lalu lintas, seorang laki-laki berjalan dengan anjingnya di jalan, percakapan telepon yang tidak sengaja terdengar. Ingatan-ingatan tersebut lebih nyata dan spesifik dibandingkan ingatan normal, lebih seperti mengalami kembali alih-alih mengingat. Penfield yakin bahwa dia telah menemukan situs fisik ingatan, di mana ingatan-ingatan dikunci oleh jaringan otak. “Terekam pada sel syaraf otak manusia, rekaman lengkapstream of consciousness. Segala hal yang disadari seseorang kapanpun, ya disimpannya di situ,” ujar Penfield pada film dokumenter rilis 1958, Gateways to the Mind. “Seakan-akan elektrodanya menyentuh kabel perekam atau strip film.”

Bayangkan kamu mampu memindai ingatan-ingatan seperti feed Instagram, dan mengingat kembali segala yang telah kamu pelajari, lalu seketika mengakses setiap bagian dari sejarah hidupmu. Kamu akan menjadi manusia yang efisien, berwawasan, dan tercerahkan. Masalahnya, apa kamu akan tetap layak disebut manusia?

Ide Penfield tidak terbukti. Dia awalnya mengira otak memiliki transkrip sempurna dari kehidupan tiap-tiap orang. Rekaman ini, dia pikir, tinggal menunggu untuk “dinyalakan” dengan setruman listrik lembut. Tapi ide bahwa ingatan yang tersimpan muncul kembali mengikuti perubahan fisik dalam otak terbukti tepat—dan penelitian baru-baru ini membuka sebuah kemungkinan untuk menyunting dan memperbaiki ingatan manusia. Ketika pemahaman mendasar kita soal bagaimana ingatan dibuat, disimpan, dan diputar kembali sangat terbatas, dua tim ilmuwan yang bekerja secara terpisah membuat terobosan di bidang pengkajian ingatan.

Kedua tim itu berhasil menanamkan false memory, mengubah perasaan yang menempel pada ingatan-ingatan yang menyebabkan trauma, dan mengembalikan kemampuan untuk membentuk ingatan jangka panjang. Percobaan ini berhasil pada otak tikus dan hewan lainnya yang telah rusak. Ada satu manusia telah mencapai fase percobaan. Dan meski perkembangan terbaru ini membutuhkan waktu yang lama sebelum nanti beredar di pasaran, mereka mengarah pada masa depan di mana kemanusiaan akan memiliki kuasa atas ingatan—berkuasa atas demensia dan PTSD, atau bahkan memperbaiki fungsi kesehatan ingatan otak.

Ketertarikan ilmuwan pada bidang ingatan sebetulnya berlangsung sejak lama. DARPA (Lembaga Pertahanan Amerika Serikat) telah berinvestasi sebesar USD 80 juta (sekitar Rp1,7 triliun) untuk mengembangkan ingatan prostetik nirkabel membantu orang-orang yang menderita memory loss sebagai hasil dari TBI (cedera otak traumatis): sebuah kondisi yang semakin umum di kalangan personel militer.

Di saat bersamaan sebuah perusahaan startup bernama Kernel telah mempekerjakan ilmuwan ternama membantu mengembangkan alat ingatan prostetik untuk penggunaan komersil. Kernel membayangkan suatu masa di mana segala teknologi penyuntingan ingatan dapat diakses secara luas, bagian dari masa depan di mana kepingan ingatan silikon ditawarkan bukan hanya sebagai perawatan medis, tetapi juga sebagai peningkatan fungsi kognitif otak yang tersedia kapan saja.

Seiring perkembangan teknologi, muncul pertanyaan etis dan teknis mengenai alat-alat tersebut: bagaimana teknologi tersebut bekerja dan siapakah yang sebaiknya memiliki akses terhadap alat-alat tersebut? Bolehkah seseorang menyunting ingatan dan “diri” mereka? Apa yang terjadi ketika proses manusia mengingat sudah dimediasi oleh mesin?

Untuk mendapatkan jawabannya, saya menemui dua orang laki-laki yang memimpin terobosan tadi: Steve Ramirez, seorang ilmuwan syaraf di Harvard, yang telah berhasil menanamkan false memory pada otak tikus. Satu lagi adalah Bryan Johnson, pakar teknologi sekaligus pendiri Kernel. Ketika saya berbincang dengan mereka, saya mendapatkan perspektif dari sudut pandang laboratorium dan startup teknologi mengenai misteri cara kerja otak. Ketika ingatan berubah dari misteri yang mustahil disingkap menjadi sesuatu yang dapat direkayasa, siapa yang berhak memutuskan pilihan terbaik bagi umat manusia?

***

1486126604859-AndrewWhite_Vice_Memory_002_300

Steve Ramirez, yang dengan timnya berhasil menanamkan false memories pada otak tikus. Foto oleh Andrew White

Pada tahun pertamanya di program PhD sains syaraf MIT, Ramirez galau berat setelah putus cinta. Ketika dia memakan banyak es krim dan menyetel lagu-lagu Taylor Swift, dia jadi kepikiran bagaimana ingatan bahagia akan mantannya jadi amat menyebalkan dalam semalam. Dia tahu perasaan sedih—komponen emosional dalam ingatan—dan informasi tentang mantannya itu—bagian konten ingatan—berasal dari bagian otak yang berbeda. Dia jadi penasaran, bagaimana jika dia bisa memisahkan keduanya?

“Bukannya saya jadi punya ide eksperimentasi dari pengalaman itu lho,” ujar Ramirez pada saya di kantor barunya di Harvard, dekat Charles River. Namun memang, pengalaman pada masa-masa formative-nya membuatnya memikirkan komponen-komponen yang membentuk ingatan, dan tentang bagaimana tingkatan emosional ingatan dapat berubah seiring waktu. “Bayangkan ingatan sebagai sebuah sketsa di buku mewarnai,” ujar Ramirez, “dan emosi seperti warna-warna yang mewarnai ingatan-ingatan tertentu. Dan mereka semua berkaitan erat.”

Bagi Ramirez dan mendiang rekan penelitinya, Xu Liu, langkah pertama meneliti elemen-elemen berbeda pada ingatan adalah menemukan lokasi fisik dari ingatan-ingatan itu sendiri. “Ide ini telah beredar di bidang kami untuk waktu yang lama,” lanjut Ramirez, “ide bahwa ingatan meninggalkan implan, sebuah perubahan fisik—terkadang mereka menyebutnya jejak.” Tetapi Ramirez dan Liu adalah yang pertama menunjukkan dengan tepat “jejak” tersebut dan mengaktifkan ingatan dari dalam otak tikus. Proses yang mereka coba replikasi terjadi secara alamiah setiap saat—beberapa stimulan memicu riam ingatan dan asosiasi. “Kalau kamu pergi keluar rumah dan berjalan melewati toko roti, kamu mungkin mencium bau cupcake yang mengingatkanmu pada ulang tahunmu ke-18,” ujar Ramirez. “Kami ingin melakukan itu dari dalam otak.”

Ramirez dan Liu menggunakan laser (lihat infografi pada bagian bawah artikel ini). Mereka memulai percobaan dengan tikus, menggunakan virus yang direkayasa secara genetik untuk “mengelabui” sel otak yang diasosiasikan dengan pembentukan ingatan agar menjadi sensitif terhadap cahaya pada momen-momen tertentu. Lalu, setelah membuat sel-sel cahaya ini sensitif, mereka memberikan si tikus setruman lembut pada kaki untuk menyandi ingatan syok tersebut. Setelah mengejutkan si tikus, mereka menembakkan laser kepada unduk-unduknya, ke area otak berbentuk kacang mete yang penting bagi penyandian ingatan. Mereka berteori bahwa cahaya laser akan mengaktivasi hanya sel-sel yang sensitif terhadap cahaya, yang diasosiasikan dengan ingatan kaki-disetrum dan memicu ingatan-ulang.

Ternyata berhasil. Ketika Ramirez menembakkan laser pada unduk-unduk tikus, hewan tersebut menunjukkan perilaku ketakutan klasik, yang seakan-akan mengalami kembali ingatan kaki-disetrum di awal.

Setahun kemudian, Ramirez dan Liu mulai mengerjakan apa yang mereka sebut Project Inception—percobaan menanam false memory pada tikus. Untuk melakukan ini, sebelumnya mereka menempatkan seekor tikus dalam kotak. Lalu mereka memberikan setruman pada kaki tikus. Di waktu bersamaan, mereka menembakkan laser yang mengaktivasi ingatan netral mengenai kotak tempat tinggalnya dulu. Keesokan harinya, tikus tersebut ketakutan ketika akan ditempatkan pada kotak. Tikus ini tidak pernah disetrum dalam kotak tersebut, tetapi dia memiliki false memory bahwa itulah yang terjadi.

1486126763801-AndrewWhite_Vice_Memory_003_300

Laser yang digunakan Ramirez dan timnya untuk mengaktivasi ingatan-ingatan pada tikus dapat dilihat terpantul pada dinding di bawah Michael Jackson.

Saat itu adalah Malam Natal 2012 ketika Ramirez pertama kali melihat sang tikus menunjukan respon ini. “Orangtua saya menunggu saya di luar, kami berencana makan-makan untuk merayakan Natal,” ujarnya. “Ada beberapa orang di laboratorium, tentunya—sains tidak mengenal hari libur—tapi saya ingat berada di ruangan itu sendirian dan berpikir, Gila, ini adalah kado Natal terbaik sepanjang masa. Keren banget.

Penanaman ini adalah permulaan dari tahapan yang dilakukan laboratorium Ramirez untuk mempermak ingatan si tikus. Dia baru-baru ini ngetwit soal penemuan awal, meski belum melalui proses peer review, yang mengacu pada kemampuan mengubah rasa takut yang diasosiasikan dengan ingatan traumatis.

Pada otak tikus yang memiliki ingatan kaki-disetrum, rasa takut yang diasosiasikan dengan ingatan itu dapat ditingkatkan atau diturunkan dengan cara mengingatkan kembali ingatan menggunakan laser pada bagian-bagian berbeda di unduk-unduk. Ketika mereka mengaktivasi ingatan takut dengan melaser satu bagian unduk-unduk, si tikus semakin jengkel. Tetapi mereka terkaget-kaget bahwa mengaktivasi ingatan yang sama dengan penempatan laser berbeda, dapat membuat ingatan tersebut berkurang kadar menakutkannya.

“Kami menemukan ingatan aversif pada bagian atas unduk-unduknya, lalu kami berulang kali mengaktivasinya. Terus menerus. Lalu ketika kami menempatkan hewan ini di lingkungan yang mestinya membuat dia takut, dia malahan tidak lagi takut.”

Ketika kami duduk di kantornya, Ramirez membandingkan terobosan ini dengan kegalauan pasca-putus yang dia alami. Setelah memutuskan pacarnya di kafe kesukaannya, tempat itu menjadi ingatan menyakitkan bagi dia, terlepas dari dia sangat doyan roti lapis selai kacang-pisang-madu yang dijual di sana. Tapi ketika dia mengunjungi kafe itu lagi dan lagi, perlahan rasa sakit yang dia asosiasikan dengan kafe itu memudar. Mengaktivasi ingatan tikus dengan cara seperti itu, menurutnya, mirip dengan kunjungan ke kafe yang berulang kali dilakukan Ramirez. Hal ini tidak jauh-jauh dari logika terapi paparan, di mana para pasien dalam kondisi aman menghadapi kembali objek-objek penyebab mereka fobia, hingga fobia tersebut memudar—bedanya, hasil tersebut dicapai dengan waktu dan perilaku alih-alih sinar laser.

Di masa depan, Ramirez akan terus bekerja di bidang eksperimentasi pada hewan dan mulai menerapkan teknik manipulasi memori sebagai solusi bagi gangguan psikiatris—Ramirez akan memulainya pada hewan sebelum beralih pada manusia (ditahap ini, kata Ramirez, tak ada lagi laser yang digunakan). Dalam kasus PTSD, misalnya, Ramirez mengatakan “kita bisa menurunkan oomph emosional negatif yang berhubungan dengan pengalaman yang traumatis.” Pada akhirnya, Ramirez ingin mengubah cara pandang kita terhadap memori.

“Bisakah kita memandang memori lebih dari sekadar sebuah fenomena kognitif, tapi lebih sebagai alternatif antidepresan atau ansiolitik? Atau bisakah kita melihat manupulasi memori sebagai terapi mengatasi PTSD?” tanya Ramirez. Tentu saja, transisi dari otak hewan ke manusia adalah tahap yang penting. “Kalau manusia itu Lamborghini, maka otak hewan adalah sepeda roda tiga,” ujar Ramirez. “Tapi setidaknya, masih ada kesamaannya. Setidaknya, roda-roda masih berputar dengan cara yang sama.” Ramirez sangat percaya diri bahwa “selama bisa dilakukan pada binatang, metode bisa dilakukan pada manusia.”

Ramirez memahami bahwa riset yang tengah dia lakukan bisa terkesan seram. Namun, meski metodenya mungkin bisa digunakan untuk menciptakan memori yang menyeramkan seperti penyiksaaan, Ramirez mengatakan bahwa “kita bisa menggunakan metode yang sama untuk mengaktifkan memori posittif dan mengupdate memori netral dengan stimulus positif.” tambah Ramirez, “memang ini bakal selalu memunculkan pertanyaan. Bagaimana kalau ini disalahgunakan? Contoh yang paling saya suka adalah air. Air adalah benda yang sangat penting dalam hidup kita. Tanpa air, kita akan binasa. Tapi, air juga bisa digunakan dalam teknik penyiksaan waterboarding. Semua bisa digunakan untuk tujuan baik atau sebaliknya.”

***

1486126796376-AndrewWhite_Vice_Memory_004_300

Peralatan Ramirez sedang melakukan operasi otak untuk menaruh serat optik pada tikus.

Anda tak harus punya mata berwarna biru dan tatapan yang bikin resah untuk bisa memimpin sebuah perusahaan teknologi walau keduanya bisa saja berguna. Dua hal ini saya temukan pada Bryan Johnson, pendiri dan CEO Kernel, sebuah perusahaan rintisan yang baru didirikan yang mendaku sebagai “sebuah perusahaan human intelligence (HI).”

Markas besar Kernel terletak di kawasan yang dikenal dengan nama Silicon Beach, Los Angeles. Bangunannya terlihat seperti kebanyakan kantor perusahaan internet biasa. Pria-pria kulit putih yang memakai celana jeans, hoodie dan sneaker atau sekadar kaos kaki bertebaran di lantai kantor. Matahari Los Angeles yang terang menyelinap masuk lewat jendela dan atap transparan di depan area lounge. Ada sebuah meja dengan sebuah speaker mahal dan beberapa patung kepala manusia yang kelihatan biasa saja. Di area yang sama, kamu bisa melihat papan putih yang berisi kutipan bisnis-cum-sains macam “CapitalismMoore’s Law” yang ditulis dengan spidol. Meski kantornya terkesan standar, Kernel bukan perusahaan rintisan biasa. Perusahaan ini didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan produk yang menggabungkan kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan. Produk mereka diharapkan bisa membantu manusia meningkatkan kemampuan kognitifnya dan akhirnya mengatur evolusinya sendiri.

Johnson, yang kaya mendadak setelah mendirikan dan menjual perusahaan sistem pembayaran online kepada Paypal sehara $800 juta (setara Rp10 triliun) telah menanamkan $100 juta (Rp1,3 triliun). Sampai saat Johnson masih berusaha menarik modal sampai $1miliar (Rp13 Triliun) dan menghasilkan empat produk human-intelegence dalam sepuluh atau 15 tahun ke depan. Johnson juga menginvestasikan $100 juta pada OS Fund, sebuah perusahaan modal ventura yang dibuat untuk “menulis ulang Operating System kehidupan.” OS Fund menyediakan modal bagi perusahan bioteknologi yang banyak meneliti masalah genetika dan masa hidup yang panjang—dua hal yang fundamental dalam sistem biologis. Meskitak pernah menyebut diri sebagai seorang transhumanis seperti Peter Thiel dan Ray Kurzweil, tujuan yang dimiliki Johnson tak jauh berbeda—memungkinkan kecerdasan manusia agar bisa berevolusi bersama kecerdasan mesin.

Salah satu area utama yang disasar oleh Kernel—bersama area lainnya seperti fungsi motorik, kemampuan belajar dan beberapa area lain yang belum mau diungkap Johnson—adalah memori. Kepada bidang sains, Theodore Berger, seorang profesor di bidang teknik biomedis dan neuroscience di USC , tengah bekerja untuk mewujudkan memori tiruan yang bisa digunakan untuk merawat pasien yang sukar membentuk memori jangka panjang Ketika Johnson dan Berger pertama kali bertemu, Johnson berujar “Kami sudah lupa waktu.” keduanya berbagi visi yang sama. “Berger memiliki cara pandang yang sama dengan saya,” jelas Johnson. “Celah pemograman pada kode neural—kami bekerja dengan kode neural untuk mencapai hasil tertentu.” (Ada persinggungan antara bahasa yang digunakan untuk membicarakan komputer dan sistem syaraf—sirkuit, wiring kerap digunakan ketika membicarakan dua bidang ini. Namun, kurang lazim untuk membicarakan aktivitas syaraf sebagai sekumpulan kode. Ini mungkin berasal dari cara pandang Kernel yang sangat Silicon Valley)

Orang yang telah kehilangan kemampuan untuk menciptakan memori jangka panjang—entah itu karena dementia, stroke, penuaan usia atau epilepsi—menderita gangguan pada Hippocampus, bagian otak yang mengubahh memori jangka panjang menjadi memori jangka panjang dan mengirimnya ke bagian otak lain untuk disimpan (bagian otak berbentuk kacang mete yang ditembak dengan laser oleh Ramirez). Representasi memori dalam otak mengada sebagai apa yang disebut oleh Berger sebagai kode ruang dan waktu, yang jauh berbeda dengan kode morse (kesamaan yang digambarkan Berger dengan serangkaian bunyi “bip” ritmis selama pembicaraan kami di ruang rapat di salah satu loteng Kernel).

“Saya lihat kecepatan perkembangan kecerdasan buatan, lalu saya tengok perkembangan kecerdasan manusia. Saya tak suka perbedaaan antara keduanya,” kata Berger.

Kode itu, ujar Berger, akan memiliki bentuk khusus ketika masuk ke Hippocampus dari sistem syaraf (dalam hal ini pendengaran, penciuman dan penglihatan). Bentuknya berubah kembali ketika keluar dari Hippocampus menuju penyimpanan memori jangka panjang. Berlandaskan ini, Berger menciptakan sebuah model matematika yang meniru transformasi kode ini, bahkan tanpa harus memahami kenapa transformasi itu terjadi. “Ini seperti menerjemahkan bahasa Rusia ke dalam bahasa Cina, tanpa memahami kedua bahasa tersebut,” jelas Berger.

Dalam sebuah percobaan pada binatang, Berger berhasil meniru proses perubahan kode memori pada tikus dan monyet melalui penggunaan implant yang berjalan berdasarkan algoritma ciptaannya. Algoritma ini berfungsi sebagai Hippocampus buatan (sila lihat infografis di bawah halaman ini). Untuk mengetes apakah perangkatnya berfungsi dengan baik, Berger menaruhnya di tubuh tikus dan monyet yang Hippocampus terlebih dahulu dinonaktifkan. Tikus percobaan kemudian dilatih untuk menaikan ungkitan agar bisa menerima hadiah. Sementara monyet harus melakukan tugas yang lebih rumit di sebuah layar komputer. Meski kedua kelompok binatang ini tak bisa menciptakan memori jangka panjang, tikus dalam percobaan tersebut bisa kembali menggerakan ungkitan dalam urutan yang benar—seakan-akan mereka merekam memori secara alamiah. Monyet juga melakukan tugasnya dengan benar dengan bantuan memori yang telah diproses oleh perangkat Berger.

Dalam sebuah presentasi beberapa tahun lalu, Berger, yang meraih gelar Ph.D-nya dari Harvard pada tahun 1976, sering mengatakan dia tak percaya riset tak begitu berkembang pesat setelah melakukan eksperimen pada tikus dan monyet. Kompleksitas otak naik seiring naiknya eksperimen dalam tangga spesies. “Makin besar hewannya, makin kompleks otaknya. Jadi modelnya makin rumit,” ujar Berger pada saya. Wired beberapa waktu lalu menulis bahwa uji coba pada manusia tengah berjalan saat ini.

“Dulu saya sering disangka gila,” ujar Berger, seperti yang dikutip oleh MIT Technology Review pada tahun 2013. Johnson mengaku bahwa skeptisme yang dihadapi Berger lazim ditemui di bidang yang digelutinya. Ini wajar karena mereka tahu betul betapa lambannya perkembangan pemahaman kita akan kerja otak—”Ini bidang ilmu yang sangat hati-hati,” tutur Johnson. Johnson punya sudut pandang berbeda. Sebagai orang baru di bidang ilmu syaraf yang datang sebagai seorang pengusaha alih-alih ilmuwan, Johnson percaya dirinya memiliki “level optimisme yang tak dimiliki oleh orang lain. Saya tidak sedang berada dalam ilusi—menurutku hal ini bisa dilakukan dan kita memang harus mengerjakannya.”

Dalam satu unggahan blognya tentang perjalanan menghadiri festival Burning Man, Johnson menulis bahwa dia khawatir bahwa ia terkesan “terlalu konservatif dan terlalu menutup diri” untuk bisa berbaur dengan yang lain. Sejatinya, Johnson mungkin sedikit kurang rapih dibanding pengunjung Burning Man lainnya. Namun, gayanya yang konservatif itu tak terlihat dalam cara berbisnisnya yang radikal. Johnson berhasrat ingin meningkatkan kecerdasan manusia agar tak terseok-seok mengejar kecerdasan mesin yang kita buat. “Saya lihat kecepatan perkembangan kecerdasan buatan, lalu saya tengok perkembangan kecerdasan manusia, aku tak suka perbedaaan antara keduanya.”

Johnson bukan tipe orang yang risih dengan kecerdasan buatan. Lebih jauh, Johnson tak khawatir mesin bakal memburu manusia. Namun, Johnson percaya bahwa mendongkrak kecerdasan manusia harus jadi prioritas global. Alih-alih menggunakan otak kita yang mulai ketinggalan zaman untuk membuat alat baru, Johnson memilih untuk mengupgradenya.

1486126812290-AndrewWhite_Vice_Memory_005_300

Mikroskop yang digunakan Ramirez dan timnya saat membedah otak tikus untuk menanam serat optik.

Johnson sudah memimpikan karirnya saat ini sejak umur 21 tahun, tepat setelah kembali dari sebuah misi perjalanan ke Ekuador. “Aku kembali ke Amerika Serikat dengan hasrat membara untuk meningkatkan kehidupan orang lain,” ucap Johnson. Dia memilih bidanh kecerdasan manusia karena menurutnya itu adalah “sumber daya paling penting dalam kehidupan manusia. “Jika saya mensurvey dunia di sekitar saya, dan saya memasukan hitungan kelangkaan waktu dan sumber daya, lalu saya bertanya: apa tujuan yang paling menantang bagi saya?” tanya Johnson. “Itu orientasi saya,” Kernel adalah hasil dari dua pemikiran ini: Mengerjakan sesuatu yang menantang dan melakukan sesuatu untuk meningkatkan kecerdasan manusia.

Johnson dan Ramirez mengungkapkan tentang siapa yang harusnya menikmati teknologi editing atau peningkatan memori. Tapi kedua tak memiliki kesamaan pendapat. “Kalau hal ini benar-benar bisa terwujud,” kata Ramirez, “idealnya kita membatasinya di ranah medis, wabil khusus dalam konteks gangguan otak. Jika anda kebetulaan seorang psikiater yang baik, anda tak akan meresepkan prozac untuk seluruh populasi Massachusetts—kamu bakal cuma memberikan prozac bagi penderita depresi.” logika yang sama, bagi Ramirez, harusnya berlaku bagi penggunaan teknologi editing memori yang tengah dia teliti. Meski metode edit memori bakal berguna bagi penderita PTSD atau beberapa gangguan psikologis, “kamu toh tak akan memberikanya pada seseorang yang tak bisa move on dari mantannya.”

Johnson punya simpulan berbeda. Meski teknologi ini bakal pada awalnya digunakan sebagai solusi terapi bagi pasien dengan gangguan kognitif, Johnson berharap penggunaannya bakal melampui itu. “Tujuan yang ingin saya capai di Kernel adalah menbuat teknologi ini bisa diakses semua orang” ujar Johson. Pada akhirnya, dia berharap alat pembuat memori buatan seperti yang tengah dikembangkan Berger bisa tersedia bagi semua orang yang ingin kemampuan mentalnya meningkat. Walau hasratnya terhitung mendakik-dakik—setidaknya rencana untuk memasarkan alat itu dalam sepuluh tahun terdengar masuk akal, sikap Johnson tentang hal ini masih cukup membumi. Johnson bisa mempresentasikan rencana dan idenya dengan ketepatan analisa yang luar biasa “setidaknya, sekarang sudah ada upaya peningkatan kemampuan kognitif,” ujar Johnson. “Jika seseorang memilih memasukkan anaknya ke sekolah swasta yang berkualitas alih-alih ke sekolah negeri yang semenjana, ini sudah masuk peningkatan kemampuan kognitif. Menyewa tutor pribadi juga adalah usaha meningkatkan kemampuan kognitif.” Bagi Johnson, meningkatkan kemampuan kognitif lewat teknologi bukan edukasi masihlah usaha yang serupa. Tingkatnya saja yang berbeda.

Dan dia percaya di masa depan orang-orang akan mengerti sudut pandangnya. “Coba bayangkan skenario dimana kognitif saya ditingkatkan, tapi orang lain tidak,” katanya, “atau kognitif anak saya ditingkatkan, tapi anak lain tidak—situasi semacam ini tidak akan bisa diterima.” Untuk mengatakan bahwa semua orang akan berkerumun demi meningkatkan otak mereka mungkin terdengar berlebihan—tapi ingat bahwa masyarakat di luar sana sering kali menenggak Adderall untuk meningkatkan produktivitas dan Xanax untuk menenangkan rasa cemas. Penduduk manula juga kerap bermain teka-teki silang dan Sudoku untuk mencegah kepikunan.

Melihat ayah tirinya yang mengidap Alzheimer mengalami penurunan kondisi—sesuai kata Johnson, “melihatnya kehilangan kemanusiaannya”—cukup memotivasi Johnson untuk bekerja dengan Kernel. Biarpun ada kecemasan tentang kemungkinan penggunaan teknologi untuk memanipulasi ingatan (udah nonton Westworld?), sulit untuk membantah bahwa teknologi semacam ini akan sangat berguna ketika berhadapan dengan berbagai penyakit kelas akut.
Lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika ide peningkatan memori masih hanya sekedar mimpi belaka, ahli filosofi dan penulis Michael Sandel menulis “The Case Against Perfection” di Atlantic.

Ketika membicarakan etika peningkatan memori, memang ada “kekhawatiran soal akses bagi semua orang,” dan kesenjangan kelas yang akan terjadi ketika sebagian orang mempunyai daya kognitif yang lebih maju. Namun sesungguhnya ada kekhawatiran yang bahkan lebih mendasar lagi: “Apakah skenario ini mengkhawatirkan karena kaum miskin tidak akan merasakan keuntungan bioteknologi atau karena mereka yang kaya akan berkurang ‘kemanusiaannya’?” tanyanya. Bayangkan saja apabila anda bisa scrolling semua ingatan anda seperti melihat feed Instagram ala Black Mirrordan bisa mengingat secara sempurna segala hal yang pernah anda pelajari. Bayangkan apabila anda bisa masuk dengan mudah ke setiap kompartemen dari sejarah hidup anda? Anda akan menjadi makhluk yang sangat efisien dan berwawasan tinggi. Pertanyaannya adalah: apa anda masih manusia?

Di Februari 1975, sekitar 140 ilmuwan, ahli filosofi, jurnalis dan pengacara berkumpul di sebuah pusat konferensi di Asilomar State Beach di California. Mereka tengah menciptakan semacam pedoman untuk sebuah teknologi baru—eksperimen rekombinan DNA. Konferensi tersebut diatur oleh Paul Berg, seorang ahli biologi molekuler yang dengan sukarela menunda riset setelah beberapa rekan kerjanya khawatir dia akan menciptakan sebuah virus gabungan E.coli yang akan menyebar keluar dari lab dan menyebabkan wabah.

***

1486126837308-DSC_8646-1_300
Bryan Johnson, pendiri sekaligus CEO Kernel, sebuah startup yang sedang berusaha memproduksi implan untuk memperkuat fungsi memori manusia dan juga fungsi otak lainnya. Foto oleh Sergiy Barchuk

Di 1975, masyarakat umum belum akrab dengan konsep perkawinan gen—istilah “rekayasa genetika” baru mulai digunakan di tahun 1950an di sebuah novel sains-fiksi dan bukan makalah akademik. Di jaman itu, eksperimentasi yang dolakukan oleh Berg untuk memanipulasi DNA tergolong sangat berani, sama seperti riset ingatan yang tengah dikerjakan oleh Ramirez dan Berger di masa ini. Jelas bagi beberapa peneliti ini bahwa hasil penelitian mereka akan merevolusi dunia profesi mereka. Yang kurang jelas adalah bagaimana mereka bisa mengeksplor eksperimen mereka tanpa membahayakan “para pekerja lab, masyarakat umum, binatang dan tanaman yang menjadi bagian dari ekosistem alam.” Sebab itulah mereka berkumpul guna menemukan solusi yang tepat. Berg menulis bahwa “diskusi yang panas terjadi.” Perdebatan-perdebatan itulah yang akhirnya menghasilkan semacam pedoman tentang seberapa kita harus berhati-hati ketika melakukan berbagai eksperimentasi genetik. Namun yang lebih penting lagi, pertemuan itu mengantar terjadinya percakapan di tengah masyarakat yang akhirnya membuat peraturan dan norma sosial seputar rekayasa genetik berkembang.

Asilomar Conference dan perdebatan yang terjadi didasari oleh prinsip pencegahan—bahwa ketika memperkenalkan sebuah produk atau teknologi baru yang beresiko mempengaruhi kesehatan manusia atau lingkungan, pencipta bertanggung jawab untuk membuktikan bahwa penemuannya aman.

Mungkin saja seiring berkembangnya teknologi peningkatan memori, kita akan mulai semakin menerima ide tersebut, sama halnya dengan bagaimana kita akhirnya menerima rekayasa genetik 20 tahun yang lalu. Namun lingkungan yang mendukung harus dibentuk agar penelitian-penelitian ini bisa berkembang secara aman dan adil. Di 2088, Berg menulis sebuah esai di Nature, mengingat bagaimana Asilomar Conference berhasil mendukung terjadinya penelitian dunia genetik yang aman dan produktif untuk beberapa dekade ke depan. Berg penasaran apabila metode yang sama akan membantu menyelesaikan isu-isu seputar rekayasa memori. Jawabannya? Tidak. Bukan karena perbedaan teknologi, tapi karena perbedaan lingkungan ilmuwan di era itu dan sekarang. Di Asilomar pada tahun 1970an, kebanyakan ilmuwan bekerja di institusi yang didanai oleh publik. Mereka bisa menyuarakan opini secara jujur tanpa harus khawatir. Namun kini, sains semakin diprivatisasi, dan dikhawatirkan bahwa kepentingan ekonomi individu akan mempengaruhi diskusi tentang resiko dan benefit dari penelitian tersebut.

Ramirez dan Johnson menarik kemiripan pararel antara teknologi memori dan rekayasa genetik. “Dulu Human Genome Project memakan waktu bertahun-tahun sebelum diaktifkan, tapi ketika akhirnya dimulai, sudah ada hukum yang memadai sehingga dunia tidak panik,” jelas Ramirez. “Nah, teknologi memori kurang lebih sama keadaannya. Kami memulai percakapan tentang teknologi ini beberapa dekade sebelum dimulai agar nanti dunia siap menerima.”

1486126867830-AndrewWhite_Vice_Memory_006_300
Laser yang digunakan untuk proyek Ramirez

Johnson mempunyai kesimpulan yang agak berbeda—bahwa mungkin Amerika Serikat terlalu konservatif dalam bidang teknologi. “Ketika kita sadar bahwa manusia bisa memodifikasi kode genetik dan menciptakan bayi sesuai keinginan, semua orang mulai berkicau. Apakah ini sesuatu yang kita ingin lanjutkan? Ketika pemerintah AS mengatakan, wah ini tidak sesuai dengan nilai-nilai kita, pemerintah Cina justru mengatakan, ini menarik…”

Seminggu sebelum Johnson mengatakan ini, ilmuwan di Sichuan University berhasil menggunakan teknologi pengeditan gen CRISPR untuk merawan pasien kanker dengan cara menyuntikkan sel darah putih rekayasa ke pasien. Di Desember 2015, koalisi ilmuwan internasional menandatangani moratorium agar penggunaan CRISPR yang dapat menyebabkan perubahan genetik ditunda hingga resikonya bisa dipahami dengan lebih baik—tapi Cina yang menolak menandatangi moratorium tersebut kekeuh menggunakan teknologi tersebut. Lalu bagaimana apabila perawatan ini berhasil? Akan sangat menyebalkan apabila AS terlalu angkuh untuk mengakui kesuksesan negara lain. Biarpun mungkin AS terlalu berhati-hati, perlu diingat bahwa otak manusia sangatlah kompleks—ada sekitar 86 milyar neuron saling berhubungan di dalamnya dan manusia belum memahami cara kerja otak mereka sendiri sepenuhnya. Ketika mencoba memanipulasi sebuah sistem raksasa yang bisa mempengaruhi setiap titik dari tubuh kita, rasanya tidak salah untuk berhati-hati.
Johnson memprediksi bahwa human intelligence akan menjadi “salah satu pasar terbesar di dunia nantinya.

Ini berhubungan dengan kapasitas manusia untuk belajar, memori, dan evolusi kita sebagai makhluk—tentu saja pasarnya akan sangat besar. Sangat mungkin untuk membangun proyek yang sukses dan meraup banyak keuntungan.” Namun ada argumen tandingan terhadap optimisme Johnson: Mengingat rumitnya otak manusia dan penelitian masih berada di tahap awal, sulit untuk bisa mencapai super memori seperti kemauan Johnson. Kita juga belum bisa dengan pasti memperkirakan efek jangka panjang seperti apa yang akan ditimbulkan teknologi peningkatan memori terhadap otak. Seiring berkembangnya penelitian, sangat penting untuk memulai percakapan yang terbuka dan jujur tentang manfaat dan resiko dari teknologi ini. Ini adalah percakapan, menurut Berg, yang hanya akan bisa terjadi ketika ilmuwan bisa membicarakan karya mereka tanpa khawatir soal kehilangan dana.

Seiring teknologi seperti chip memori silikon dan editing memori menggunakan laser mulai menjadi kenyataan, manusia harus mencari cara untuk membudidayakan mereka dengan benar. Yang sesungguhnya dibutuhkan adalah versi modern Asilomar Conference: ilmuwan, ahli klinik, ahli etika dan pengusaha berkumpul bersama dan menimbang resiko dan manfaat teknologi baru ini. Namun mengingat lingkungan penelitian yang sudah sangat korporat di era ini, rasanya ini mimpi yang mustahil.

Ahli saraf Julie Robillard, yang menulis tentang manipulasi memori lewat tulisannya Journal of Ethics yang diterbitkan oleh American Medical Association di bulan Desember mengatakan ke saya via email bahwa penting sekali bagi para peneliti dan ahli etika untuk bekerja bersama-sama dalam tahap awal penelitian guna membuktikan bahwa ketidakserasian antara etika dan progres sains hanyalah mitos belaka.

Teknologi memang memiliki manfaat potensial yang tinggi, katanya, tapi teknologi juga memiliki resiko—baik secara individu maupun masyarakat luas. Dia mempertanyakan hal-hal seperti, “Bagaimana seseorang bisa melaporkan kejahatan kalau memorinya dihapus?” Dan “Akankah kriminal dipaksa menjalani prosedur manipulasi memori apabila ini memperkecil resiko mereka berbuat kejahatan di masa mendatang?” Dia mengatakan bahwa manipulasi memori—dan semua bioteknologi baru—”harus dilakukan dalam lingkungan yang interdisipliner.”

Saat ini Kernel memiliki 20 orang staf—ilmuwan komputer, ahli saraf, insinyur. Ketika Johnson ditanya apakah timnya memiliki ahli etik, dia menjawab “belum ada.”

[Source: “Teknologi Mengedit dan Menghapus Kenangan Manusia Sudah Ditemukan” published by]

Photo Credits: Vice.com / Sergiy Barchuk / Andrew White

Leave a Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of